O, dekatnya aku dengan Tuhanku

Ibadah chapel mahasiswa.
O, dekatnya aku dengan Tuhanku.
Oleh: Felina Halawa.

Salah satu (tentunya dari sekian banyak) hal yang sungguh spesial dari kekristenan adalah tentang betapa dekatnya hubungan kita dengan Allah. Hubungan antara orang-orang percaya dengan Allah tidaklah terbatas hanya pada sekedar hubungan antara “umat” dengan “Allah”, atau antara “hamba” dengan “Tuan” tetapi jauh lebih dari pada itu. Allah menganggap kita sebagai anak-anak-Nya, sahabat-Nya, dan mempelai-Nya.
1. Kita sebagai anak-anak-Nya.
Alkitab dalam banyak bagian menuliskan bahwa umat Allah dianggap sebagai anak-anak Allah, baik itu didalam PL (ul.14:1; 2 Sam. 7:14; 1 Taw. 17:13; Yer. 31:9, dll) maupun didalam PB (Mat. 5:45; Yoh. 1:12; Rom. 8:15; 2 Kor. 6:18; dll).
Ini adalah hubungan yang sangat indah! Bagaimana tidak, kita dapat memanggil Sang Pencipta Yang Maha Kuasa itu dengan sebutan “Bapa.” Betapa luar biasanya ini!
Hubungan Bapa dengan anak juga merupakan penggambaran hubungan yang begitu erat, ini adalah ikatan kasih yang kuat.

2. Kita sebagai sahabat-Nya.
Hubungan antara kita dengan Allah juga seperti hubungan sahabat. Yakobus 2:23 menuliskan bahwa Abraham disebut “sahabat Allah.” Mengapa Abraham disebut sebagai sahabat Allah? Jawabannya ada di ayat 22 yaitu karena iman Abraham bekerjasama dengan perbuatan-perbuatannya dan Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
Yohanes 15:14 Yesus berkata, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” Maka jelas sekali bahwa indikator “sahabat Allah” adalah iman dan perbuatan yang berbanding lurus.
Apakah kita mengaku sebagai sahabat Kristus? Indikatornya adalah kita melakukan perintah-Nya.

3. Kita sebagai mempelai-Nya.
Kita sudah sangat familiar untuk penggambaran hubungan ini. Sebagai mempelai Kristus, tentu ada beberapa hal penting untuk kita perhatikan agar kita layak. Hal-hal tersebut misalnya, kedewasaan rohani, kasih kepada Kristus, kekudusan, kesetiaan, dll.
Marilah kita mempersiapkan diri kita sebagai mempelai-Nya.

Tuhan Yesus memberkati.
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

Buta namun percaya

Ibadah chapel mahasiswa.
Buta namun percaya.
Mark. 10: 46-52
Oleh: Stephen Juniarto.

Kisah Bartimeus yang buta sudah tidak asing lagi bagi kita. Sekilas peristiwa penyembuhan ini terlihat biasa dan tidak begitu istimewa. Namun kisah ini sungguh luar biasa, karena walaupun Bartimeus buta namun dia melihat. Bahkan dia melihat lebih baik daripada banyak orang yang tidak buta. Dia buta namun dia dapat melihat keagungan Yesus sehingga dia percaya.
1. Dia mendengar firman.
Memang tidak tertulis secara eksplisit bahwa Bartimeus mendengar firman, namun dari tindakan Bartimeus pada ayat 27 bahwa ia “berseru” kepada Yesus mengindikasikan bahwa ia sudah mendengar tentang Yesus, mendengar perbuatan-perbuatan ajaib Yesus, bahkan mungkin mendengar langsung khotbah Yesus sehingga dia berseru agar Yesus menyembuhkan dia.
Bartimeus percaya karena dia mendengar. Maka dari itu pentinglah bagi kita untuk senantiasa mendengar firman. Karena iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

2. Dia berseru. (ay. 47).
Tidak mungkin Bartimeus berseru tanpa dia percaya, sebaliknya karena dia percayalah maka dia berseru.
Berseru juga berarti kita meminta Tuhan untuk mengulurkan tangan-Nya pada kita, tanda bahwa kita tidak mampu.
Marilah kita berseru kepada Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan mau dan mampu untuk menolong kita.

3. Dia menanggalkan jubah. (ay. 50)
Bartimeus melakukan hal yang tidak terduga, yaitu dia melemparkan jubahnya padahal tentu sangat sulit bagi orang buta untuk mengambil sesuatu. Dia yakin dengan sungguh bahwa Yesus akan membuat dia tidak membutuhkan jubah (pengemis) itu lagi, karena dia akan segera dipulihkan.
Ini adalah tindakan yang luar biasa. Bartimeus percaya maka dia menanggalkan jubahnya. Seberapa banyak dari kita yang berani seperti Bartimeus untuk menanggalkan “jubah.” Seringkali kita membuat pertimbangan-pertimbangan “logis” dalam mengikut Tuhan. Namun marilah kita belajar dari sosok Bartimeus yang percaya penuh kepada Yesus.
Bartimeus buta, namun dia melihat. Bahkan dia melihat jauh lebih baik daripada kebanyakan orang yang dapat melihat.

Tuhan Yesus memberkati.
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

Gereja yang berpadanan

Ibadah chapel mahasiswa.
Gereja yang berpadanan.
Efesus 4: 1-6.
Oleh: Meilan Angelina Pasia.

Dalam teks ini, Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Efesus untuk hidup mereka sebagai orang-orang yang telah dipanggil oleh Kristus berpadanan dengan panggilan itu.
Dalam memenuhi panggilan tersebut, Paulus menasihatkan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh jemaat di Efesus untuk dilakukan.
1. Memiliki kelemah lembutan. (ay. 2).
Rasul Paulus menasihatkan jemaat agar mereka selalu lemah lembut. Perkataan yang lemah lembut meredakan kegeraman (Ams. 15:1) sehingga memperkecil untuk timbulnya perpecahan didalam gereja. Terkadang suatu konflik dapat terjadi hanya karena hal remeh seperti komunikasi verbal yang kurang tepat yang mengakibatkan penolakan oleh orang lain karena kita dalam menyampaikan pesan tersebut dinilai kurang baik.
Maka dari itu marilah kita memiliki kelemah lembutan agar perkataan kita tidak menimbulkan kegeraman.

2. Memiliki kesabaran. (ay. 2).
KJV memakai kata “longsuffering” untuk kata “sabar” pada ayat ini yang jika diterjemahkan secara sederhana ke dalam bahasa Indonesia menjadi “penderitaan panjang.” Artinya, sabar dalam ayat ini berkenaan dengan penderitaan dalam mengikut Tuhan.
Penderitaan (karena iman) pasti dialami oleh setiap orang percaya. Banyak bagian didalam Alkitab telah mengingatkan akan adanya penderitaan. Oleh sebab itu hendaklah ketika kita mengalami penderitaan itu, kita menjalaninya dengan sabar serta tentunya didalam Tuhan.

3. Memelihara kesatuan. (ay. 3).
Kita sudah dipersatukan oleh Roh Allah. Oleh karena itu teruslah berusaha memelihara kesatuan itu dengan hidup damai. Untuk mencapai ini, Paulus sudah memberi beberapa nasihat pada ayat 2; rendah hati, lemah lembut, sabar, mengasihi (saling membantu). Hendaklah kita memelihara kesatuan, karena tanpa adanya kesatuan maka hanya akan ada perpecahan dan kegagalan.

Tuhan Yesus memberkati.
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

Perlengkapan rohani

Ibadah chapel mahasiswa.
Perlengkapan rohani.
Efesus 6: 10-18
Oleh: Oktaviarti Kusumaningtyas

Setiap dari kita harus menyadari secara mendalam bahwa hidup di dunia ini adalah medan peperangan yang sangat berbahaya. Kita sebagai umat Tuhan dalam menjalani kehidupan di dunia memiliki musuh alami.
Dalam perlawanan ini kita harus mempersiapkan diri kita dengan berbagai perlengkapan. Perlengkapan-perlengkapan yang kita butuhkan adalah perlengkapan rohani, karena ini bukanlah tentang perlawanan melawan darah dan daging, tetapi melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap, melawan roh-roh jahat di udara.
Kita harus mengambil seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kita dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kita menyelesaikan segala sesuatu (ayat 13).
Adapun perlengkapan-perlengkapan yang kita kenakan adalah;
1. Ikat pinggang kebenaran
2. Baju zirah keadilan
3. Kasut pekabaran injil
4. Perisai iman
5. Ketopong keselamatan
6. Pedang roh

Kita harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah itu agar kita kuat didalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya dan dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis.
Kita sedang berhadapan dengan kekuatan yang besar, maka dari itu persiapkanlah diri kita untuk dapat bertahan melawannya dan tetap berdiri ketika kita telah selesai.

Tuhan Yesus memberkati
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

Mengasihi sesama

Ibadah chapel mahasiswa.
Mengasihi sesama.
1 Yoh. 4:20
Oleh: Merry Wahyu Widyati

Kasih merupakan perasaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Secara mendalam, kasih tidaklah terbatas hanya pada perasaan saja, namun lebih daripada itu kasih adalah tindakan.
Alkitab dalam banyak bagian menuliskan tentang kasih (dalam narasi, perintah, perumpamaan, mazmur, dll) bahkan tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa inti dari Alkitab adalah kasih.
Rasul Yohanes didalam 1 Yohanes 4 menuliskan secara mendalam tentang kasih. Menariknya, secara berulang dia menyatakan, “Allah adalah kasih” (ayat 8 dan ayat 16) yang berimplikasi pada “sebagai orang yang mengenal Allah maka haruslah mengasihi.” Kasih berasal dari Allah. Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamai bagi dosa-dosa kita. Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
Ketika kita ditanya “apakah kamu mengasihi Allah?” saya sangat yakin kebanyakan dari kita akan berkata “ya, saya mengasihi Allah.” Namun apakah benar demikian?
Rasul Yohanes dalam pasal ini “seakan-akan” memberikan “standar” tentang mengasihi Allah. Dalam ayat 20 pada pasal ini Yohanes menulilskan bahwa jika seorang berkata ia mengasihi Allah, tetapi ia membenci saudaranya (sesama manusia) maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.
Maka dari itu, cara paling sederhana untuk kita menunjukkan kasih kepada Allah adalah dengan menunjukkannya kepada sesama kita.

Tuhan Yesus memberkati
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

FORGIVENESS

Ibadah chapel mahasiswa.
FORGIVENESS
Matius 18:21-35
Oleh: Yehuda Setya Sanjaya

Mengampuni adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Namun Alkitab secara jelas banyak kali mengajarkan tentang pengampunan.
Didalam Matius 18:21-35 Tuhan Yesus mengajarkan tentang pengampunan dengan memberikan sebuah perumpamaan. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita pelajari tentang pengampunan dari teks ini.

1. Mengampuni tidak ada batasan (ay.21-22)
Petrus pada saat itu berpikir bahwa dalam mengampuni seseorang ada batasannya (yaitu tujuh kali). Balasan Tuhan Yesus kepada Petrus menghasilkan sebuah rumus rohani 70 (batasan) x 7 (batasan) = Tidak Terbatas.
Jadi, pengampunan itu tidak ada batasannya.

2. Mengampuni karena kita telah diampuni (ay.31-33)
Didalam ayat 31-33 kita dapat melihat bahwa Tuhan menyuruh kita memberikan pengampunan karena kita telah diampuni. “…: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?.” 3. Mengampuni agar tidak dihukum (ay.34-35)
Ketika kita dengan sengaja tidak mengampuni dengan sungguh-sungguh, maka kita akan beroleh hukuman.

Tuhan Yesus memberkati.
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

Lawan dengan kebaikan!

Ibadah chapel mahasiswa.
Lawan dengan kebaikan!
Roma 12: 17-21
Oleh: Ineke Trivena Tendean “Anda baik, saya baik. Anda jahat, saya lebih jahat.” Saya yakin kita pernah mendengar pernyataan ini keluar dari bibir seseorang, atau mungkin kita sendiri pernah mengucapkan pernyataan tersebut.
Alkitab (khususnya Roma 12: 17-21) tidak mengajarkan hal yang demikian, malah kebalikannya yaitu melawan kejahatan dengan kebaikan. Mungkin ajaran ini cukup sulit untuk dilakukan, namun melalui teks ini kita akan melihat tiga alasan mengapa kita melawan kejahatan dengan kebaikan.

1. Karena ini perintah Tuhan. (ay.17)
Alasan pertama adalah karena ini perintah Tuhan. Ayat 17 mengajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan ditambahkan bahwa kita disuruh untuk melakukan apa yang baik bagi semua orang! “Semua orang”, artinya baik itu teman maupun musuh kita harus berbuat baik kepada mereka.

2. Karena pembalasan adalah hak Tuhan (ay.19)
Pembalasan adalah hak Tuhan. Tuhanlah yang menuntut pembalasan. Oleh karena pembalasan adalah hak Allah, maka dari itu janganlah kita mengambil peran Allah untuk melakukan pembalasan. Peran kita hanyalah berlaku baik bagi semua orang seperti yang tertulis di ayat 17. Perihal pembalasan biarlah Tuhan yang berkehendak.

3. Karena dengan itu kita menang (ay.20)
Ketika kita diperlakukan jahat oleh seseorang, kasihilah dia. Ayat 20 menuliskan bahwa jika dia (orang yang berbuat jahat pada kita) lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kita menumpukkan bara api di atas kepalanya.

Tuhan Yesus memberkati.
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

Keunikan Kristus

Ibadah chapel mahasiswa.
Keunikan Kristus
Oleh: Agra Mustika Ginting

Yesus Kristus adalah pribadi yang sangat unik. Dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang ada pada Tuhan Yesus adalah unik. Berikut ini adalah keunikan Kristus berdasarkan kelahiran, kehidupan, kematian, dan kebangkitannya.
1. Kelahiran
Ada beberapa kejadian spektakuler yang terjadi ketika kelahiran Tuhan Yesus, diantaranya; ada bintang yang tampak di timur (mat. 2:9), penampakan malaikat yang mengabarkan kelahiran-Nya (Luk. 2:8-12), penampakan malaikat dan sejumlah besar bala tentara sorga memuji Allah (Luk. 2:13-15). 2. Kehidupan
Mengenai hal-hal spektakuler yang terjadi selama kehidupan Yesus tampaknya tidak perlu ditanya lagi. Yesus melakukan banyak mukjizat spektakuler, seperti; menyembuhkan sakit, mengusir setan, mengendalikan alam, menentang hukum alam, membangkitkan orang mati, dll.

3. Kematian
Pada saat Yesus mati, ada beberapa kejadian menakjubkan, yaitu: gempa bumi, bukit-bukit batu terbelah (Mat. 27:51), tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah (Mat. 27:51), kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit (Mat.27:52), dll.

4. Kebangkitan
Kebangkitan Yesus merupakan hal yang spektakuler, karena belum pernah ada seseorang yang bangkit dari kubur lalu menampakkan diri selama beberapa waktu dan tidak mati lagi melainkan naik ke sorga.

Tuhan Yesus memberkati

#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

Menjadi mitra Allah

Ibadah chapel mahasiswa.
Menjadi mitra Allah.
1Korintus 3:5-9
Oleh: Merry Wahyu Widyati

Setiap orang percaya idealnya merupakan pelayan Tuhan (mitranya Tuhan). Didalam teks ini Rasul Paulus secara khusus membicarakan rekan kerja Allah sebagai para penginjil yang memberitakan kabar baik.

1. Kita adalah pelayan Tuhan. (ay.5,9)
Kita harus menyadari bahwa salah satu tugas utama kita sebagai orang percaya adalah memberitakan kabar tentang Tuhan Yesus. Maka dari itu seharusnya tiap-tiap orang percaya adalah para pelayan Tuhan (karena semua orang percaya mempunyai tugas dari Tuhan). 2. Kita diberi tugas yang berbeda. (ay.5,6)
Memang persamaan misi/tugas setiap orang percaya adalah memberitakan injil. Namun didalam mencapai itu kita diberi tugas yang berbeda oleh Allah.
Ada yang menanam, ada pula yang menyiram. Maka dari itu hendaklah kita mengetahui peran didalam pelayanan agar kita efektif didalam pelayanan tersebut.

3. Kita sadar bahwa Allah lah yang terpenting (ay.6-8)
Paulus menanam, Apolos menyiram, tetapi ALlah yang memberi pertumbuhan. Maka dari itu yang terpenting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Adalah sia-sia dan percuma apabila sebuah tanaman ditanam dan disiram secara rutin namun tidak mengalami pertumbuhan.
Maka dari itu para pelayan Tuhan harus sadar bahwa yang terpenting bukanlah “aku” atau “apa yang kulakukan” tetapi Allah.

Tuhan Yesus memberkati
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen

Ibadah yang Berkenan

Ibadah chapel mahasiswa.
Ibadah yang Berkenan
Roma 12: 1-8
Oleh: Eunike Irawati Setiawan

Ibadah sejati adalah ketika kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Lalu bagaimana agar kita dapat mempersembahkan persembahan yang demikian? Rasul Paulus didalam perikop ini memberikan setidaknya dua hal untuk menjawab pertanyaan tersebut.

1. Hidup di dunia tetapi tidak duniawi. (ay.2)
Sama seperti ikan yang hidup di laut tetapi tidak menjadi asin, demikian pula hendaknya hidup kita didalam dunia yang cemar ini.
Ayat ini dengan jelas melarang kita untuk menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubah oleh pembaharuan budi, agar kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

2. Menggunakan karunia untuk kemuliaan Tuhan. (ay.3-8)
Tuhan memberikan kepada tiap-tiap kita karunia yang berlain-lainan seperti tubuh mempunyai banyak anggota dengan tugas yang berbeda-beda.
Dan baiklah kita menggunakan karunia (karuunia-karunuia) yang kita miliki bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi menggunakannya untuk kepentingan jemaat bagi kemuliaan nama Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati.
#stas_surabaya #khotbahkristen #renungankristen